Umpan klik atau lebih sering kita sebut sebagai clickbait, merupakan salah satu cara menarik perhatian audiens untuk mengetahui suatu konten atau produk. Sesuai dengan namanya, umpan klik maksudnya konten seolah-olah merupakan "umpan", dan audiens adalah "ikan"-nya. Nah, si pemasar ini harus menciptakan "umpan" yang cantik supaya "ikan-ikan" berdatangan.

Umpan klik (clickbait) adalah suatu istilah peyoratif yang merujuk kepada konten web yang ditujukan untuk mendapatkan penghasilan iklan daring, terutama dengan mengorbankan kualitas atau akurasi, dengan bergantung kepada tajuk sensasional atau gambar mini yang menarik mata guna mengundang klik-tayang (click-through) dan mendorong penerusan bahan tersebut melalui jejaring sosial daring. Tajuk umpan klik umumnya bertujuan untuk mengeksploitasi "kesenjangan keingintahuan" (curiosity gap) dengan hanya memberi informasi yang cukup membuat pembaca penasaran ingin tahu, tetapi tidak cukup untuk memenuhi rasa ingin tahu tersebut tanpa mengklik pada tautan atau pranala yang diberikan. (Wikipedia)

Rumus Clickbait

Clickbait dapat berbentuk judul yang hiperbola, thumbnail dan lain-lain. Yang bertujuan untuk membuat tampilan depan konten lebih eye-catchy dan membuat penasaran audiens untuk mengetahui isi konten atau produk yang dipasarkan.

Beberapa rumus judul clickbait yang biasa digunakan di Indonesia :

  • [kalimat menantang] + [keterangan]
Contoh : "Pertanyaan ini tidak terpecahkan, apakah anda bisa memecahkannya?", "90% orang tidak bisa memecahkan ini", "7 alasan wanita mudah marah, pria jangan baca!"
  • [reaksi setelah kita membaca] + [keterangan]
Contoh : "Artis kaya ini tidak menggunakan kendaraan pribadi, alasannya bikin salut!", "Heboh! Mobil tabrak pohon"
  • [keterangan]+[objek misterius]+[akibat]
Contoh : "Viral pejabat yang ketahuan korupsi! Ini yang dilakukannya", "Polisi ini menilang dan kemudian menangis"

Clickbait sebagai alat untuk promosi

Banyak sekali media-media online yang kini menggunakan strategi pemasaran. Sebut saja media sosial, media berita, website download, Youtube, dan masih banyak lagi. Semua hal yang menarik kita untuk meng-klik konten tersebut.

Hanya dengan melihat trending Youtube saja, kita dapat langsung mengenali mana yang clickbait dan mana yang tidak.

Trending Youtube Indonesia pada 28 Maret 2018

Mana tombol download yang sebenarnya?

Penggunaan huruf kapital, tanda baca, pemilihan kata dan thumbnail menjadi kunci utama untuk "mempromosikan" konten anda. Penggunaan huruf kapital dalam judul konten membuat orang-orang merasa bahwa judul tersebut bersifat "ofensif", "penting", "menggemparkan", dan sebagainya. Juga didukung dengan tanda baca dan pemilihan kata yang "ofensif" juga, seperti kata "Viral", "Heboh", "Gempar", dan lain-lain ditambah dengan tanda seru (!) atau tanda seru dengan tanda tanya (!?) yang membuat orang penasaran dengannya.

Semenjak populernya monetasi video di Youtube di Indonesia, kebanyakan orang tidak mengincar kualitas lagi, melainkan uang yang diperoleh dari jumlah viewers. Karenanya, kebanyakan channel di Indonesia lebih mementingkan kuantitas daripada kualitas. Kebanyakan Youtuber Indonesia amatir selalu menggunakan kalimat pengenalan sejuta umat "Halo guys, kembali lagi di channel xxx" dan "Jangan lupa klik like, subsribe dan share".

Oh iya, video yang paling sering trending biasanya video gossip, berita yang menyudutkan seseorang, permainan online yang booming dikalangan anak-anak, hal-hal aneh/mistis, dan sebagainya. Sekalipun ada video mengenai pengetahuan & edukasi, audiens Indonesia lebih memilih video berbasis "top 10 fact", yang mana bukan edukasi yang sebenarnya. Hal inilah yang membuat netizen Indonesia mudah dipengaruhi melalui konten Youtube.

Bukan hal baru

Sebenarnya seni clickbaiting bukanlah hal yang asing lagi, headline koran, baliho dan TV sudah mendahului. Ada gaya penyiaran berita yang disebut Tease.

Tease merupakan kalimat/ungkapan yang disampaikan presenter sebelum jeda iklan agar penonton tidak merubah channelnya. Misalnya "Jangan kemana-mana setelah jeda iklan berikut" atau menggunakan quiz pada akhir acara yang jawabannya muncul setelah iklan.

Gambaran singkat clickbait

Lemahnya Budaya Literasi pada Masyarakat

Bagi pembuat konten, memang clickbait memiliki dampak yang positif sebagai bahan marketing dan promosi konten, namun clickbait memiliki dampak yang negatif bagi audiensnya.

Misalnya, ketika saya melihat suatu artikel di internet dengan judul yang provokatif. Orang-orang dengan mudahnya memberi komentar pada artikel tersebut hanya dengan melihat thumbnail dan judulnya tanpa membaca isi artikel yang sesungguhnya.

Lantas, siapa yang berhak disalahkan? Menurut saya, ini merupakah kesalahan dari kedua belah pihak. Dari pihak pembuat konten seharusnya tidak hanya menciptakan judul dan thumbnail yang provokatif, tetapi juga menggunakan judul dan thumbnail yang benar-benar mewakili isi dari artikel yang dibuat. Kemudian dari pihak audiens seharusnya dapat membaca berita tersebut kemudian memahaminya dengan baik, tidak men_judge_ sebelum memahami. Juga memilah konten yang fakta dan opini, asli dan palsu.

Sayang sekali banyak konten dengan banyak viewers tetapi kualitas konten yang ditawarkan sangat minim, dibandingkan dengan konten dengan sedikit viewers yang kualitasnya lebih baik.

Memang tidak salah untuk memggunakan clickbait dalam promosi konten sebagai sarana promosi untuk mendapatkan lebih banyak audiens, tetapi menjaga kualitas konten sama pentingnya agar tidak terjadi kesalah pahaman pada masyarakat.

Readers don't want to be tricked by headlines; instead, they want to be informed by them.

-Khalid El-Arini, Facebook Engineer

Bacaan Lanjutan

  • https://id.techinasia.com/talk/judul-clickbait-dan-kebiasaan-malas-membaca-orang-indonesia
  • https://digitalentrepreneur.id/rumus-judul-click-bait
  • http://nativeadvertising.com/the-true-cost-of-clickbait
  • http://www.metia.com/london/asavin-wattanajantra/2014/04/journalism,-copywriting-and-the-psychology-of-the-clickbait-headline
  • http://newsroom.fb.com/news/2014/08/news-feed-fyi-click-baiting/